Agar do’a-do’a yang kita sampaikan kepada Allah swt semaksimal
mungkin mencapai pengabulan dari-Nya, maka ada beberapa hal yang perlu
kita perhatikan. Di antaranya sebagai berikut:
1) Hendaknya kita
hanya meminta kepada Allah swt, tidak mempersekutukanNya dengan siapapun
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS Al-Fatihah 5)
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan
orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS Al-Baqarah 186)
2) Hendaknya kita semakin
banyak melaksanakan berbagai perintah Allah berlandaskan iman kepada-Nya, serta dengan jalan menghidupkan berbagai sunnah Rasulullah saw
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي
”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan
orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka
itu memenuhi (segala perintah) Ku.” (QS Al-Baqarah 186)
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي
يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ
رَحِيمٌ
“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran 31)
3) Hendaknya isi redaksi do’a tidak hanya mencakup urusan dunia semata, melainkan
mencakup urusan dunia dan akhirat sekaligus
فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي
الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَمِنْهُمْ مَنْ
يَقُولُ رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا
كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Maka di antara manusia ada orang yang berdo`a, “Ya Tuhan kami,
berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang
menyenangkan) di akhirat.
Dan di antara mereka ada orang yang berdo`a, “Ya Tuhan kami, berilah
kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari
siksa neraka.”
Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan;
dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS Al-Baqarah 200-202)
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا
نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ
“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami
tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki
keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan
dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS Asy-Syuro
20)
4) Hendaknya do’a
disampaikan dengan “merendahkan diri” dan “suara yang lembut”
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Berdo`alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang
lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui
batas.” (QS Al-A’raf 55)
Dalam Shahihain diriwayatkan bahwa Abu Musa Al-Asy’ari berkata bahwa
orang-orang mengeraskan suaranya ketika berdo’a, maka Rasulullah saw
bersabda:
ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا قَرِيبًا
“Hai manusia, kasihanilah dirimu karena kamu bukan menyeru kepada
yang tuli dan gha’ib (tidak ada), yang kamu seru itu adalah Maha
Mendengar,
Maha Melihat dan Maha Dekat.”(HR Bukhari 22/385)
5) Hendaknya pada saat berdo’a
memadukan di dalam jiwa perasaan “berharap” dan “takut”.
Berharap kepada Allah swt agar do’a tersebut dikabulkanNya, dan cemas
kalau-kalau do’a kita tidak dikabulkan, bahkan tidak didengarNya.
وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا
“…dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).” (QS Al-A’raf 56)
6) Hendaknya kita
meyakini bahwa do’a kita pasti InsyaAllah dikabulkanNya.
Cepat ataupun lambat. Di dunia ini maupun di akhirat kelak nanti. Yang
penting kita tidak memaksa atau “mendikte” Allah swt, suatu hal yang
memang mustahil.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan
Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri
dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”
(QS Al-Mu’min 60)
Dan yang tidak kalah pentingnya bahwa seorang muslim tidak boleh
pernah berhenti meminta kepadaNya, karena sikap demikian merupakan suatu
kesombongan yang akan menjebloskannya ke dalam siksa Allah yang pedih.
Maka Rasulullah saw bersabda:
مَنْ لَمْ يَدْعُ اللَّهَ غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ
“Barangsiapa tidak berdo’a kepada Allah swt, maka Allah murka kepadaNya.”
(HR Ahmad)
Tambahan satu lagi yaitu kita mesti mewaspadai perasaan hati kita, Ingatlah bahwa Allah akan mengikuti prasangka hati hambanya" dgn kata lain
perasaanmu adalah jawaban doamu"
Jadi senantiasa berprasangka baiklah kepada Allah karena keraguan sedikit saja akan menghancurkan keyakinan kita. Waspadalah waspadalah
Semoga bermanfaat, silakan dibagikan kepada saudara2, atau temen2 yg lain agar lebih bermanfaat.
Salam Sukses Super Mulia
Mas Priyanto (
pintulangit@gmail.com,
smartpower78@gmail.com)